Di tengah kehidupan yang semakin didominasi layar digital, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) mengajak keluarga Indonesia kembali membangun ruang-ruang kebersamaan melalui aktivitas berkriya. Bagi Dekranas, kriya tidak hanya menjadi upaya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat komunikasi, menumbuhkan kreativitas, serta menghadirkan kembali kehangatan antara orang tua dan anak di tengah derasnya arus teknologi digital.


Pesan tersebut disampaikan Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, saat membuka Workshop Kreasi Kriya Keluarga TUNAS: Merajut Kehangatan di Ruang Digital di Trans Studio Mall Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (9/7/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun ke-46 Dekranas ini memadukan edukasi literasi digital dengan aktivitas berkarya bersama sebagai ikhtiar mempererat hubungan dalam keluarga.


Menurut Tri Tito, kemajuan teknologi merupakan keniscayaan yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, penggunaan perangkat digital yang tidak terkendali juga berpotensi mengikis kualitas interaksi antaranggota keluarga jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat.


"Judul kegiatan ini adalah Merajut Kehangatan di Ruang Digital. Artinya, yang dekat jangan dijauhkan, sementara yang jauh justru harus kita dekatkan. Jangan sampai karena gadget, orang-orang yang berada dalam satu rumah justru saling berjauhan," ujar Tri Tito.


Meski demikian, Tri Tito menegaskan bahwa Dekranas tidak memandang teknologi sebagai sesuatu yang harus dihindari. Menurutnya, ruang digital memberikan banyak peluang untuk belajar, mengembangkan kreativitas, hingga memperluas akses informasi. Namun, anak-anak juga dihadapkan pada berbagai risiko, mulai dari paparan konten yang tidak sesuai usia, perundungan siber, penipuan daring, hingga penyalahgunaan data pribadi.


"Anak-anak harus mendapat perlindungan, bukan hanya secara fisik dan ekonomi, tetapi juga ketika mereka beraktivitas di ruang digital," tegasnya.


Karena itu, Tri Tito mengajak seluruh pihak memperkuat ekosistem perlindungan anak di ruang digital. Menurutnya, orang tua menjadi pendamping utama di rumah, sekolah memperkuat literasi digital, pemerintah menghadirkan regulasi dan perlindungan hukum, penyedia platform menyediakan fitur keamanan, sementara masyarakat turut menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak. Ia juga mendorong keluarga memanfaatkan fitur parental control, mengatur durasi penggunaan gawai, serta membiasakan anak memahami etika dan keamanan saat berinternet.


Sebagai wujud nyata upaya tersebut, Dekranas menghadirkan Workshop Kreasi Kriya Keluarga TUNAS yang mempertemukan orang tua dan anak dalam aktivitas berkarya bersama pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Angin Mammiri. Peserta diajak membuat kerajinan serat lontar berupa songkok adat Makassar atau songkok guru, kerajinan khas Kabupaten Takalar.


"Berkriya bersama bukan sekadar menghasilkan sebuah karya. Di dalam prosesnya ada percakapan, kerja sama, kesabaran, dan perhatian yang tumbuh antara orang tua dan anak. Kehangatan keluarga dibangun dari momen-momen sederhana seperti ini," ucap Tri Tito.


Senada dengan itu, Ketua Bidang Humas dan Promosi Dekranas, Indri Angga Prabowo, mengatakan nilai-nilai yang terkandung dalam kriya memiliki makna yang sangat relevan dengan pola pengasuhan anak di era digital. Menurutnya, sebagaimana sebuah karya kriya lahir melalui proses yang penuh kesabaran, ketelitian, dan perhatian, demikian pula anak membutuhkan kehadiran orang tua agar dapat tumbuh secara optimal.


"Semoga apa yang kita rajut bersama pada hari ini, baik berupa kriya maupun kehangatan di dalam keluarga, dapat terus terpelihara. Anak-anak adalah tunas bangsa. Anak-anak membutuhkan kehadiran dan pendampingan orang tua untuk tumbuh menjadi generasi yang tangguh, bijak, dan berbahagia. Baik di dunia nyata maupun di dunia digital," tutur Indri.


Indri mengungkapkan, tantangan tersebut semakin nyata seiring tingginya penetrasi internet di Indonesia yang telah mencapai sekitar 229,4 juta pengguna atau 80,66 persen dari total populasi. Generasi Alpha pun menjadi kelompok pengguna internet yang terus bertambah, sementara hampir separuh pengguna internet nasional berusia di bawah 18 tahun.


Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan pentingnya kehadiran orang tua agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab. Pemerintah juga telah memperkuat upaya tersebut melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.


"Semoga semangat merajut kehangatan di era digital menjadi warisan yang tak kalah berharga dari setiap karya yang kita hasilkan. Selamat berkarya. Selamat merajut kehangatan bersama keluarga tercinta," ucapnya.


Melalui kegiatan ini, Dekranas berharap masyarakat semakin menyadari bahwa menjaga kehangatan keluarga tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Aktivitas sederhana seperti berkriya bersama dapat menjadi ruang untuk membangun komunikasi, mempererat hubungan emosional, sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, tangguh, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi digital.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Bidang Manajemen Usaha Dekranas Sita Ferry Juliantono, Wakil Ketua Dekranas Provinsi Sulawesi Selatan Sri Astuti Thamrin, serta para orang tua dan anak yang mengikuti Workshop Kreasi Kriya Keluarga TUNAS sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-46 Dekranas.