Jakarta, Ada cerita yang tidak selesai ketika selembar kain ditenun. Ia bermula dari benang, tangan perajin, motif yang diwariskan, hingga pengetahuan yang berpindah antargenerasi. Ketika karya selesai, perjalanan justru dimulai: bagaimana ia dikenal, diapresiasi, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Cerita itulah yang akan dibawa Sumatera Selatan ke Jakarta melalui Kriyanusa 2026. Sumatera Selatan dipercaya menjadi Provinsi Ikon dalam ajang yang berlangsung pada 26–30 September 2026. Dalam pemberitaan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada 10 September 2026, Ketua Dekranasda Sumsel Feby Herman Deru kembali memastikan kesiapan daerahnya menghadapi Kriyanusa 2026.
Satu Provinsi, Banyak Cerita
Menjadi Provinsi Ikon bukan sekadar menghadirkan produk ke ruang pamer. Ada identitas daerah yang perlu diterjemahkan melalui karya, perajin, dan pengalaman pengunjung.
Berdasarkan informasi JDIH Provinsi Sumatera Selatan pada 24 Agustus 2026, persiapan Kriyanusa dilakukan melalui koordinasi antara Dekranasda provinsi dan kabupaten/kota. Feby Herman Deru menyebut kepercayaan tersebut sebagai “kehormatan sekaligus tantangan besar”. Salah satu konsep yang disiapkan adalah “Kampung Sumsel”, yang akan menghadirkan karakter kabupaten dan kota dalam satu wajah Sumatera Selatan.
Kekayaan itu tidak hanya berbicara tentang Songket Palembang. Sumatera Selatan juga memiliki jumputan, tajung, batik, sulaman, serta beragam kriya yang berkembang di berbagai daerah. Keragaman tersebut menjadi kekuatan untuk menunjukkan bahwa satu provinsi dapat memiliki banyak cerita dan karakter.
Tradisi yang Beradaptasi
Penguatan kriya juga membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Dalam pemberitaan JDIH Sumsel pada 27 Januari 2026, Kriyanusa disebut sebagai salah satu fokus utama program kerja Dekranasda Sumsel. Persiapan diarahkan tidak hanya pada inventarisasi produk dan pelaku UMKM, tetapi juga pada penguatan pemasaran, kemasan, kreativitas, dan pemanfaatan media sosial.
Langkah tersebut sejalan dengan perkembangan wastra Sumatera Selatan. Dalam informasi mengenai Pesona Wastra Sumatera Selatan 2026, Pemerintah Provinsi Sumsel menampilkan Batik Sembagi, Sulam Mudawaroh, dan Songket sebagai bagian dari upaya melestarikan wastra sekaligus membuatnya lebih adaptif terhadap generasi muda.
Sebab, melestarikan kriya hari ini bukan hanya menjaga bentuk lama, tetapi juga memastikan cerita di baliknya dapat dipahami oleh generasi berikutnya.
Dari Tangan Perajin ke Panggung Nasional
Kriyanusa 2026 menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, UMKM, dan pasar. Lima hari pameran di Jakarta diharapkan tidak berhenti sebagai momentum tampil, tetapi membuka peluang yang lebih panjang bagi perajin dan pelaku usaha Sumatera Selatan.
Sebagaimana disampaikan JDIH Sumsel pada Januari 2026, karakter Sumatera Selatan perlu tetap dibawa dan ditampilkan meskipun Kriyanusa berlangsung di Jakarta.
Karena itu, yang hadir dari Bumi Sriwijaya bukan sekadar kain dan produk kerajinan. Ada pengetahuan, keterampilan, sejarah, kreativitas, dan harapan para perajin untuk membawa warisan lokal menuju masa depan.
Dari Sumatera Selatan ke Jakarta, kriya bukan sekadar benda yang dipamerkan. Ia adalah identitas yang terus bergerak, bertemu zaman, dan menemukan ruang baru untuk hidup.